Sabtu, 16 November 2013

FIGUR ISA AS DALAM AL-QUR`AN DAN BIBLE

A. PENDAHULUAN
            Memang sudah sejak dalam kandungan, sosok Isa ini penuh misteri. Maryam sendiri, seorang ibu yang mengandungnya hampir tak percaya bahwa dirinya yang masih perawan tiba-tiba harus hamil tanpa ada sosok laki-laki pun yang menyentuhnya. Sungguh peristiwa luar biasa! Tapi apa boleh dikata bila Allah sudah bertitah "kun”, sehingga Isa pun bisa "yaku>nu" meski melalui proses yang sulit dicerna akal. Oleh karenanya, tidak salah bila ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa di antara mukjizat Isa adalah kelahirannya sendiri. Belum lagi mukjizat lain yang tidak kalah mencengangkan, misalnya ia dapat berbicara sewaktu dalam buaian sang ibu, bahkan setelah diangkat menjadi nabi, ia mampu menghidupkan orang mati.
Belum hilang ketercengangannya, saat ini kita diajak untuk mendiskusikan sosok Isa melalui jendela teks-teks suci agama. Namun, pada saat ini penyusun makalah hanya menggunakan kacamata berlensa dua, pertama melalui lensa al-Qur'an dan kedua melalui lensa Bibel. Fokus kajiannya pun hanya dibatasi pada dua entry point,yakni benarkah Isa yang dikenal dalam Islam atau Yesus dalam Kristen itu adalah 'Tuhan' atau mungkin 'anak Tuhan'? dan apakah Isa itu mati karena disalib atau diangkat oleh Allah?
Berawal dari dua pokok masalah di atas, penyusun bermaksud menguraikan sosok Isa yang dimulai dari perspektif Bibel kemudian disusul perspektif al-Qur'an dan terakhir disertakan telaah analitis-komparatif dari kedua teks suci tersebut.
B. YESUS DALAM BIBEL
1. Siapakah Yesus?
Bibel sering menyebut bahwa Yesus[1] adalah anak Tuhan.[2] Pernyataan ini tersurat jelas sebagai berikut: "Tuhan Bapa yang di sorga itu mempunyai anak sulung yang sudah ada sebelum segala sesuatu itu ada, dan segalanya diciptakan melalui dia" (I Korintus 8:6; Kolose 1: 15; I Timotius 2:5). Dalam ayat lain disebutkan bahwa Yesus adalah Firman, dan Firman itu adalah Allah.[3] Bahkan keterangan yang sangat jelas tersurat dalam Roma 10:9 yang berbunyi: "Setiap orang harus yakin bahwa Yesus adalah Tuhan."
Tetapi di sisi lain dalam Alkitab Perjanjian Baru Yesus disebut sebagai anak manusia.[4] Bahkan dalam ayat lain Yesus diposisikan sebagai utusan Tuhan.[5]
Menyoal apakah Yesus itu Tuhan, anak Tuhan ataukah manusia Tuhan (divine human) sebenarnya dalam tradisi Kristen masih polemik. Fenomena ini dapat terbaca ketika mempelajari Christian councils (konsili Kristiani)[6] sebagai lembaga konstitusional gereja yang berhak memutuskan segala persoalan yang terjadi di tubuh gereja itu sendiri.
Dasar teologis yang digunakan untuk konsili adalah berangkat dari sifat gereja sendiri sebagai communio (persekutuan atau persaudaraan) yang ditujukan untuk kebaikan hidup seluruh umat beriman dengan jalan mencari solusi yang dapat memelihara dan memajukan hubungan umat dengan Kristus.[7] Menurut orang-orang Kristen, konsili ini sudah pernah dilakukan 22 tahun setelah al-Masih meninggalkan mereka.
Ada dua macam konsili, pertama konsili umum atau ekumenik, yaitu suatu sidang pertemuan yang dihadiri oleh beberapa wakil dari beberapa gereja dunia, dari mulai Asia, Afrika, sampai Eropa. Dan kedua, konsili setempat atau sinode atau regional, yaitu suatu pertemuan yang dihadiri oleh tokoh-tokoh gereja setempat.[8] Konsili ekumenik ini memegang otoritas tertinggi dalam gereja untuk memutuskan apa yang diimani gereja, baik dalam bidang moral, liturgi, maupun hukum. Sebagai keputusan tertinggi, keputusan itu tidak dapat salah, karenanya bersifat mengikat.
Diadakannya konsili ini karena adanya beberapa persoalan dalam tubuh agama Kristen, terutama yang berkaitan dengan akidah atau doktrin, terutama dalam hal ini adalah mengenai status Yesus dalam keimanan Kristen.
Meskipun dalam Injil Yohanes dan surat Paulus pernyataan mengenai Isa sudah ditegaskan, namun tampaknya hal itu belum menjadi kesepakatan bulat yang menjadi doktrin dan dogma bagi semua penganut kepercayaan Kristen. Hal ini terbukti dengan adanya beberapa sekte, terutama pada sekte Kristen awal yang setia pada tradisi Abrahamic dan mempertahankan keesaan Tuhan dan menganggap Yesus sebagai manusia biasa, ciptaan Allah dan bukan penjelmaannya, apalagi satu esensi dengan-Nya.[9] Salah satu sekte tersebut adalah sekte Arius. Arius (256-336 M) seorang tokoh ahli teologi di Iskandariah, bahkan menegaskan bila ada keyakinan mengenai Yesus yang berbeda dengan keyakinan tersebut, maka hal itu bukan merupakan keyakinan yang diajarkan Kristus. Tokoh lain yang mempertahankan keyakinan tersebut adalah Paul Samosata (260-272 M) seorang bishop Antiokia. Menurutnya, Isa adalah hamba Tuhan dan rasul-Nya seperti halnya rasul-rasul lain. Isa diciptakan Tuhan dalam perut Maryam tanpa melalui proses pembuahan. Ia adalah manusia biasa tanpa ada unsur ketuhanan di dalamnya.[10] Keyakinan seperti Arius dan Samosata inilah yang kemudian menjadi sebab diadakannya konsili pertama.
Terjadinya pendekatan yang kemudian mengubah kepercayaan Kristen dari "monoteisme murni" ke "politeisme" tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya adalah, Isa tidak meninggalkan dokumen tertulis dan Injil yang ada tidak diterjemahkan dari bahasa aslinya, tetapi dari bahasa Yunani ditambah dengan masuknya unsur-unsur filsafat Neo-Platonisme.
Mengenai jumlah konsili atau sinode Menurut sejarawan, sampai tahun 1869/1870 M telah terjadi sekitar 20 kali konsili. Dari 20 kali konsili ini diperdebatkan antara yang bersifat ekumenis dengan yang bersifat sinodis. Menurut pandangan Gereja barat, 20 kali konsili itu semuanya bersifat ekumenis, sedangkan menurut gereja timur, hanya 7 yang bersifat ekumenis, sedang sisanya bersifat sinodis.
Menurut Abu Zahrah, ada dua faktor yang menjadi dasar perbedaan antara Gereja Barat dan Gereja Timur. Pertama, berkaitan dengan kepercayaan mengenai Ruhul Kudus. Menurut Gereja Timur, Ruhul Kudus semata-mata keluar dari Bapa (Father) saja bukan dari Bapa dan Anak (Son). Sedangkan menurut Gereja Barat, Ruhul Kudus keluar dari Bapa dan Anak secara bersama-sama. Masing-masing Gereja kemudian mengadakan konsili untuk menguatkan pendapatnya tersebut. Gereja Barat mengadakan konsili pada tahun 869 M dan menamakan konsili tersebut dengan konsili konstantinopel IV atau konsili kedelapan. Sebagai tandingannya, sepuluh tahun kemudian (879) Gereja Timur melaksanakan hal serupa. Konsili ini dalam daftar konsili tidak diakui sebagai konsili resmi. Dari ini diketahui mengapa Gereja Timur hanya mengakui 7 konsili.
Kedua, berkaitan dengan kepemimpinan gereja. Masing-masing gereja ingin memegang kepemimpinan tertinggi. Kedua faktor inilah yang kemudian menjadi dasar sebab perpecahan satu sama lain. Gereja Timur kemudian dikenal dengan Gereja Ortodoks Timur atau Gereja Yunani dan Gereja Barat dikenal dengan sebutan Gereja Roma.
Di antara konsili-konsili yang pernah dilakukan adalah sebagai berikut:
1.       Konsili Nicea (Asia kecil) diadakan pada tanggal 19 Juni – 25 Agustus 325 M. Konsili ini dihadiri oleh sekitar 300 uskup dari berbagai daerah. Ada juga yang menyebutkan 2.048 uskup dan Patriarch dengan membawa bermacam-macam pendapat dan keyakinan. Konsili ini diselenggarakan sebagai respon penolakan atau pengutukan terhadap Arianisme yang menolak keilahian Kristus. Keputusan yang diambil adalah Jesus as son of God, begotten not made and same substance as the father (Yesus sebagai Anak Tuhan, diperanakkan, tidak diciptakan dan satu substansi dengan Bapa). Karena itu Yesus dipermaklumkan sebagai homosious.
2.       Konsili Konstantinopel I, yang diadakan pada bulan Mei-Juli 381 M. Konsili ini diprakarsai oleh Theodosius I dan dihadiri oleh 150 uskup. Konsili ini berhasil melengkapi syahadat Nicea dengan menetapkan Ruhul Kudus sebagai sezat dengan Tuhan dan Tuhan itu sendiri. Doktrin ini kemudian diformulasikan oleh Augustinus sebagai subtantia tres personae (satu substansi dalam tiga pribadi). Dengan konsili ini, maka lengkaplah doktrin trinitas yang ditetapkan secara kokoh.
3.       Konsili Efesius, yang diadakan pada tahun 431 atas prakarsa Kaisar Teodosius II. Konsili ini dihadiri oleh 150-200 uskup yang menetapkan bahwa Maryam adalah theotokos (mother of god). Permasalahan ini muncul dari adanya pendapat Nestorianisme dan Plegianisme yang menyatakan bahwa Isa dilahirkan oleh Maryam dan Maryam tidak melahirkan Tuhan, tetapi hanya melahirkan manusia biasa.Isa bukan Tuhan dan Maryam bukan ibu dari Tuhan.
4.       Konsili Chalcedon yang diadakan pada bulan Oktober-November 451 M. konsili ini dihadiri sekitar 600 uskup. Pada konsili ini ketuhanan Isa ditetapkan, namun perselisihan terjadi berkenaan dengan hakekatnya. Kalau Yesus memang Tuhan, apakah ia memiliki dua hakikat (kemanusiaan dan ketuhanan). Menurut mereka Isa memiliki satu hakikat yang menggabungkan ketuhanan dan kemanusiaan atau berkumpulnya unsur lahut dan nasut. Menurutnya, setelah Tuhan berinkarnasi kepada Isa yang masing-masing memiliki hakikat maka dua hakikat itu menjadi satu, sehingga semua perbuatan dan pikiran Yesus itu muncul dari satu wujud yang tunggal, yaitu Tuhan dalam Kristus. Paham ini dikenal dengan paham monofisitisme. Konsili ini diadakan dalam rangka menetapkan bahwa Yesus memiliki dua hakikat dalam satu oknum.
5.       Dan konsili-konsili lainnya hingga konsili yang ke-20, namun 7 konsili pertama yang hanya diakui oleh Gereja Timur.
Di antara semua konsili tersebut, pembahasan mengenai ketuhanan, baik Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Tuhan Ruh Kudus, hanya sampai pada konsili ke-8. yang perlu dicatat bahwa keputusan konsili itu lebih banyak tidak berpijak pada ajaran Kitab Suci baik pada Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Hal ini sebenarnya sebuah ironi, kitab suci yang selama ini diupayakan ternyata diabaikan. Keputusan konsili seperti sebuah ijma' (dalam Islam) yang tercerabut dari akarnya.
2. Yesus Disalib
Markus secara jelas melukiskan tentang penangkapan Yesus yang kemudian disusul dengan penyalibannya.[11] Bahkan lebih dari itu diberitakan bahwa Yesus mati di tiang salib (Markus 15:33-41; Luk 23:44-49; Yoh 19:28-30). Umat Kristiani meyakini bahwa hal ini menunjukkan bahwa Yesus rela berkorban untuk menebus dosa umatnya.

C. ISA AS DALAM AL-QUR'AN
1. Siapakah Isa as?
Dalam al-Qur`an setidaknya ada sejumlah ayat yang secara implisit menyebutkan nama Isa, penyebutan nama ini terdapat di dalam beberapa ayat dengan pokok pembahasan yang berbeda, di antara pembahasan itu cerita mengenai Maryam dan  kelahiran Isa, adapun ayat al-Qur`an yang menjelaskan tentang hal itu adalah; Surat Ali Imran ayat 45-47 yang artinya;
“(Ingatlah) ketika Malaikat berkata:“Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya al-Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)
dan dia berbicara dengan  manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang shaleh.
Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun” Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril) “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: Jadilah, lalu jadilah dia.
            Ayat ini menjelaskan mengenai kabar gembira yang dibawa oleh Malaikat kepada Maryam ibu dari Isa,  Maryam digambarkan sebagai wanita terpilih dan suci di antara kebanyakan wanita lainnya, juga menjelaskan tentang karunia yang diberikan kepadanya berupa seorang anak yang bernama Isa al-Masih. Julukan al-Masih diberikan kepada nabi Isa dikarenakan dia mempunyai mu’jizat yaitu setiap orang sakit yang diusapnya maka dia akan sembuh dan ada juga sebagian ulama tafsir yang mengartikannya dengan orang yang kedua telapak kakinya halus (masih al-qadamain). Di samping julukan tersebut, kalau kita lihat dari nash tersebut di atas maka kita akan melihat bahwa penyebutan Isa disertakan atau dinisbatkan kepada ibunya Maryam, hal ini dikarenakan Isa tidak mempunyai ayah, karena proses kelahirannya yang tanpa melalui pernikahan antara laki-laki dan perempuan layaknya kebanyakan manusia, di dalam ayat ini pula, Allah menyebutkan bahwa nabi Isa kelak akan menjadi orang yang mempunyai kedudukan mulia di dunia dan di akhirat, juga disebutkan beberapa mu’jizat yang diberikan kepadanya semasa dia masih dalam buaian ibunya Maryam, yang di antaranya adalah dapat berbicara kepada orang-orang yang saat itu menuduh ibunya berbuat zina [12]
Ayat tersebut di atas juga membicarakan tentang kemasygulan Maryam akan kelahiran putranya Isa, sebab seperti yang tersurat dalam ayat di atas bahwa kelahiran nabi Isa tidak melalui proses pernikahan layaknya manusia, akan tetapi merupakan kehendak Allah menciptakan nabi Isa dengan kekuasaan-Nya, atas kemasygulan ini Allah kemudian menjelaskan bahwa keberadaan Isa merupakan titah atau ketentuan dari Allah.[13]
Tidak jelas apakah ayat-ayat mengenai kelahiran Isa di atas bertujuan untuk menegaskan kegaiban kelahiran Isa. Pada umumnya para cendikiawan Muslim setuju bahwa Isa dilahirkan tidak seperti manusia yang lain.[14]
2. Mu’jizat dan ajaran yang dibawa nabi Isa
Ayat yang membahas tentang kerasulan dan ajaran yang dibawa oleh Isa adalah Surat Ali Imran ayat 48-52
Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil.
Dan sebagai rasul kepada bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mu’jizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang yang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku)bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman”
Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mu’jizat) dari Tuhanmu. Karena itu bertaqwalah kepada Allah dan ta’atlah kepadaku.
Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah  jalan yang lurus.[15]
Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Isra`il) berkatalah dia: “siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah? Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.

Ayat ini merupakan bahasan mengenai kerasulan nabi Isa serta beberapa mu’jizat yang dimilikinya, di samping itu juga menjelaskan mengenai kejadian yang menimpa nabi Isa berkaitan dengan pengingkaran Bani Israil terhadap kerasulannya serta orang-orang yang datang membela nabi Isa yang kemudian dikenal dengan sebutan al-Hawariyyin, ayat ini juga menunjukkan ajaran yang dibawah oleh nabi Isa yaitu ajakan untuk menyembah dan berserah diri kepada Allah. [16]
3. Isa bukan anak Tuhan
Berikut ini merupakan ayat yang secara khusus menjelaskan mengenai pandangan al-Qur`an terhadap nabi Isa a.s. ayat tersebut adalah:
“Wahai Ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih Isa putra Maryam itu adalahutusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya, maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu tiga), berhentilah (dari ucapan itu). (itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang dilangit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai pemelihara. [17]

Ayat diatas secara gamblang juga memberikan penjelasan tentang kedudukan Isa sebagai rasul, juga merupakan penolakan terhadap ahli kitab yang menganggapnya sebagai putera Tuhan. Di samping itu di dalam ayat tersebut juga terdapat bantahan akan adanya pemahaman Trinitas.
Sementara itu ayat yang juga merupakan bentuk bantahan al-Qur`an terhadap adanya anggapan bahwa nabi Isa adalah putera Tuhan adalah firman Allah yang berbunyi:
“Sesungguhnya perumpamaan Isa bagi Allah adalah seperti halnya nabi Adam, dimana Allah menciptakannya dari tanah kemudian dikatakan kepadanya: “Jadilah, lalu  jadilah dia”[18]
Ada satu keterangan yang cukup gamblang berkaitan dengan historisitas dari diturunkannya beberapa ayat yeng telah disebutkan di atas, yaitu sebuah riwayat yang mengatakan bahwa proses turunnya beberapa ayat tersebut diawali dengan adanya sebuah peristiwa pada masa Muhammad, yang mengatakan bahwa suatu saat ada beberapa orang Nashrani yang datang menghadap Muhammad, dan mereka mengatakan kepada Muhammad perihal Isa, mereka mengatakan bahwa Isa adalah Tuhan, Isa adalah anak Tuhan dan Isa adalah Tsalitsu Tsalatsah (Trinitas). Argumen yang mendasari anggapan mereka ini adalah mereka mengatakan bahwa Isa adalah Tuhan karena Isa mempunyai beberapa kelebihan seperti halnya Tuhan, yang dimaksudkan dengan kelebihan di sini adalah bahwa Isa mampu menghidupkan makhluk yang sudah mati, mengobati penyakit serta mengetahui beberapa hal ghaib yang akan terjadi. Adapun argumen yang digunakan terhadap anggapan mereka bahwa Isa adalah anak Tuhan karena Isa tidak mempunyai seorang ayah juga kemampuan Isa yang tidak dimiliki oleh manusia sebelumnya, adapun argumen yang digunakan untuk mendasari anggapan mereka bahwa Isa merupakan Tsalitsu Tsalasah adalah karena Allah selalu menggunakan kata ganti orang pertama jama’ (plural) dalam setiap firman Nya, misalnya Amarna (Kami memerintahkan), Fa’alna (Kami berbuat), Khalaqana (Kami menciptakan) dan sebagainya.[19]
            Asbab an-Nuzul inilah yang dikatakan oleh sebagian ahli tafsir dengan kejadian yang melatarbelakangi diturunkannya beberapa ayat dari surat Ali Imran yang membicarakan secara khusus tentang nabi Isa.
4. Penyaliban Isa
          Al-Qur`an telah memberikan ketegasan bahwa Isa tidak mati disalib, meskipun demikian al-Qur`an tidak merinci kehidupan Isa lebih jauh, mula-mula al-Qur`an menerangkan bahwa Isa menegaskan kebenaran taurat dan memperlunak beberapa larangan yang terdapat dalam beberapa hukum yang dibawa oleh Musa yang diajarkan kepada  kaum Yahudi. Sesudah itu al-Qur`an menerangkan bahwa Isa mengajarkan kebenaran kepada orang-orang Yahudi akan tetapi mereka tidak mau menerima ajarannya. Karena itu Isa meminta sekelompok kecil pegikutnya (al-Hawariyyun) untuk menolongnya demi Allah, dan mereka mau memenuhi permintaan Isa, saat itu orang-orang Yahudi tidak hanya tidak memperdulikan ajaran Isa, mereka bahkan secara terang-terangan menentangnya hal ini seperti yang dijelaskan dalam firman Allah: “Dan orang-orang kafir itu merencanakan, dan Allah (juga) merencanakan. Dan Allah adalah sebaik-baik perencana”[20] 
            Ayat di atas secara jelas menerangkan bahwa orang-orang Yahudi merencanakan untuk membunuh Isa dengan jalan menyalibnya, tetapi rencana mereka dipatahkan oleh Allah sehingga Isa pun selamat. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam firman Nya:
“Dan karena ucapan mereka: Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh adalah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang Isa benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu, kecuali mengikuti prasangka belaka, mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. [21]

5. Apakah nabi Isa wafat?
          Tema ini memunculkan perbedaan pendapat dikalangan para ulama, perbedaan itu berpangkal pada satu ayat al-Qur`an yaitu yang terdapat di dalam surat Ali Imran ayat 55  yang berbunyi:
(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”.[22]
            Ayat ini berbicara tentang ajal dan proses pengangkatan nabi Isa ke hadirat Allah, ayat ini juga memunculkan kontroversi dikalangan para ulama seputar permasalahan yang berkaitan dengan apakah nabi Isa saat ini telah wafat atau belum (hanya jasadnya saja yang diangkat oleh Allah).
Dari beberapa ayat yang telah penulis kutip di atas teranglah bahwa penyebutan Isa tidak hanya sekali, bahkan bisa dikatakan bahwa al-Qur`an sangat rinci menjelaskan dari mulai kejadian atau diciptakannya nabi Isa, diutusnya beliau menjadi rasul sampai dengan kejadian diangkatnya beliau kepada Allah.


D. BENARKAH YESUS ADALAH TUHAN DAN MATI DI TIANG SALIB?
Ada banyak argumen yang dibangun oleh para cendekiawan muslim untuk untuk menolak ketuhanan Yesus. Di antaranya adalah Imam al-Ghazali yang mengajukan teori silogisme. Menariknya, argumen ini dibangun berdasarkan ayat-ayat yang tersurat dalam Injil sendiri. Sebagian besar silogisme ini tertuang dalam karyanya al-Radd al-Jami>l li Ila>hiyyati I<sa> bi S{ari>h} al-Inji>l. Silogisme ini kemudian dikembangkan oleh John Biddle (1615-1662 M), tokoh Kristen unitarian Inggris yang dikenal dengan pamfletnya Twelve Arguments (dua belas argumen menolak ketuhanan Yesus). Di antara satu contoh silogismenya adalah pernyataan yang terdapat dalam Matius 11:25 bahwa Yesus bersyukur kepada Tuhan. Silogismenya adalah sebagai berikut:
a.       Setiap yang disalib bukanlah Tuhan
b.      Yesus disalib
c.       Berarti Yesus bukan Tuhan.           
Begitu juga sifat-sifat manusiawi lainnya, seperti Yesus merasa sedih (Matius 26:38 dan Markus 14:34), Yesus diludahi dan dipukuli (Matius 27:30; Markus 15:19; dan Yohanes 19:3), Yesus berteriak memanggil Tuhan (Matius 27:46-47; Markus 15:33-41; Lukas 23:44-49; dan Yohanes 19:28-30), Yesus takut dan gemetar (Markus 14:33), Yesus ketakutan melihat malaikat (Lukas: 22:43-44) dan lain sebagainya.
Mengenai anggapan kaum Kristiani yang menyebut bahwa Yesus adalah "anak Tuhan" yang ditunjuk oleh kata "Ibn Allah". Al-Ghazali mengajukan sebuah dalil yang diambil dari Taurat: إبني بكري إسرائيل (Anakku yang pertama adalah bani Israel). Kata "ibn" yang dikehendaki oleh kalimat di atas adalah Bani Israael yang pada saat itu berjumlah 600.000 orang. Jadi penggunaan kata "ibn" bukan berarti anak dalam arti hubungan darah melainkan seseorang atau kelompok yang disayangi.



DAFTAR PUSTAKA
Adolf SJ. Heuken, Ensiklopedi Gereja. Vol. 1. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 1991
Waryono, "Kristologi Islam: Tinjauan atas Karya al-Ghazali al-Radd al-Jamil li Ilahiyyati Isa bi Sarih al-Injil", Tesis, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Program Studi Aqidah Filsafat, 1999.  
Abu Zahrah, Muh}a>d}ara>t fi> al-Nas}ra>niyyah  Kairo: Dar al-Fikr al-'Arabi, 1963.
Olaf Schuman, Pemikiran Keagamaan dalam Tantangan  Jakarta: Gramedia, 1993.
M. Arifin, Menguak Misteri Ajaran-Ajaran Agama Besar  Jakarta: Golden Terayan Press, 1994
Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur`an al-‘Adzim. Beirut: Maktabah an-Nur al-‘Ilmiyyah, 1991
Mazheruddin Siddiqi, Konsep Qur`an tentang Sejarah.  Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986
Imam Muchlas & Masyhud, Al-Qur'an Berbicara tentang Kristen (t.tp.: Pustaka Da'i, 1999)
Abdullah bin Hammad asy-Syabana, Merumuskan Kata Sepakat Islam Kristen, terj. Kathur Suhardi Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1993.
W.M. Watt, Titik Temu Islam-Kristen: Persepsi dan Salah Persepsi, terj. Zaimuddin, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1996. 


[1] Para ahli kitab di dalam Injil Matius dan Lukas menisbahkan Isa kepada Yusuf bin Ya’kub al-Najar, sedangkan dalam Injil-injil lainnya tidak dinisbahkan kepada seorang laki-laki pun. Dalam Injil Matius disebutkan:
 “Yesus bin Yusuf al-Najar bin Yakub bin Matan bin Eleazar bin Aliud bin Akhim bin Zadok bin Azor bin Elyakim bin Abihud bin Zerubabel bin Sealtiel bin Yekhonya bin Yosia bin Amon bin Manasye bin Hizkia bin Ahas bin Yotam bin Uzia bin Yoram bin Yosafat bin Asa bin Abia bin Rehabeam bin Salomo bin Daud bin Isai bin Obed bin Boas bin Salmon bin Nahason bin Aminadab bin Ram bin Hezron bin Peres bin Yehuda bin Yakub bin Ishak bin Abraham”.
Sedangkan dalam Injil Lukas, nasab Isa disebutkan sebagai berikut:
"Yesus bin Yusuf al-Najar bin Eli bin Matat bin Lewi bin Malkhi bin Yanai bin Yusuf bin Matica bin Amos bin Nahum bin Hesli bin Nagay bin Maat bin Matica bin Simei bin Yosekh bin Yoda bin Yohana bin Resa bin Zerubabel bin Sealtiel bin Neri bin Malkhi bin Adi bin Kosam bin Elmadam bin Er bin Yesua bin Eliezer bin Yorim bin Matat bin Lewi bin Simeon bin Yehuda bin Yusuf bin Yonam bin Elyakim bin Melea bin Natan bin Daud bin Isai bin Obed bin Boas bin Salmon bin Nahason bin Aminadab bin Ram bin Hezron bin Perez bin Yehuda bin Yakub bin Ishak bin Abrahim”. Dari sini terdapat perbedaan yang mencolok antara nama-nama yang disebut dalam Injil Matius maupun Lukas yang keduanya tidak dapat dikompromikan.
[2] Pernyataan ini tersurat dalam Matius: 2:15;  3:1; 4:3-6 dsb, Markus: 1:1; 11; 3:3; 5:6 dsb, Lukas: 1: 32, 35; 3:22, dsb, Yohanes: 1:34; 40; 3: 16; 18 dsb, Roma: 1:19; 5:10; 8:3, dsb dan kitab Injil lainnya. 
[3] Lihat Yohanes: 1:1-9; 10:30; 38; 14:9-11.
[4] Lihat Matius: 8:20; 9:8; 16:13, dsb, Markus: 2:10; 28; 8:31, dsb serta Lukas: 5:24; 6:6; 22; 7:34, dsb.
[5] Lihat Markus: 9:37, Yohanes: 4:18; 5:19; 24; 30; 8:16, dsb, Kisah Rasul: 3:22, dan I Yohanes: 4:9.
[6] Konsili adalah musyawarah atau sidang para uskup atau tokoh-tokoh Kristen untuk meneliti dan kemudian mengambil sikap dan keputusan tentang hal-hal yang berkaitan dengan akidah atau ajaran iman, tata tertib, dan tindakan pastoral serta administratif. Lihat Adolf SJ. Heuken, Ensiklopedi Gereja. Vol. 1 (Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 1991), hlm. 94.
[7] Waryono, "Kristologi Islam: Tinjauan atas Karya al-Ghazali al-Radd al-Jamil li Ilahiyyati Isa bi Sarih al-Injil", Tesis, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Program Studi Aqidah Filsafat, 1999.  
[8] Abu Zahrah, Muh}a>d}ara>t fi> al-Nas}ra>niyyah (Kairo: Dar al-Fikr al-'Arabi, 1963), hlm. 123.
[9] Olaf Schuman, Pemikiran Keagamaan dalam Tantangan (Jakarta: Gramedia, 1993), hlm. 120-121.
[10] M. Arifin, Menguak Misteri Ajaran-Ajaran Agama Besar (Jakarta: Golden Terayan Press, 1994), hlm. 143.
[11] Lihat : Markus 14:1-2; 15:16-20, dsb.
[12] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur`an al-‘Adzim. (Beirut: Maktabah an-Nur al-‘Ilmiyyah, 1991) juz I hlm. 344
[13] Ibid
[14] Mazheruddin Siddiqi, Konsep Qur`an tentang Sejarah. (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986) hlm. 161
[15] QS. Ali Imran: 45-52
[16] op cit  345
[17] QS. an-Nisa` : 171
[18] QS. Ali Imran: 59
[19] op cit. Ibnu Katsir, Juz I hlm 348
[20] QS. Ali Imran: 54
[21] QS. An-Nisa`: 157
[22] QS. Ali Imran: 55

Selasa, 12 November 2013

MANAGEMEN WAKTU

Salah seorang sekretaris Rasulullah saw. Yakni Handlolah bin Robi’ al-Usaidi bahwa ia pernah dijumpai sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq ra sembari beliau menanyakan kabar Handlolah. Handlolah pun menjawab bahwa ia munafik. Abu Bakar ra pun dengan heran berucap, “subhanallah, apa yang engkau katakan?”.
Handlolah pun menegaskan bahwa ia telah munafik karena ketika ia hadir di majlis Rasulullah saw dan mendengarkan penjelasan Rasulullah saw tentang surga dan neraka, ia betul-betul bias merasakan seakan-akan surga dan neraka tersebut ada di depan matanya sehingga kesadaran ini mampu membuatnya lebih rajin dalam beribadah dan menghindari larangan Allah swt. Namun, ketika keluar dari majlis Rasulullah saw, Handlolah disibukkan dengan urusan rumah tangga dan pekerjaanya sehingga kesadaran yang muncul saat berada di najlis Rasul pun lenyap ketika ia sibuk dengan urusan duniawi.
Setelah mendengar penuturan handlolah, sahabat Abu Bakar ra berkomentar, “Demi Allah, Handlolah, saya juga mengalami hal demikian”.
Percakapan antara Handlolah dan Abu Bakar ra tersebut sampai juga ke telinga Rasulullah saw. beliau kemudian menegaskan, “Demi Allah, kalau kalian semuanya dapat mengingat materi-materi yang pernah aku sampaikan, niscaya kalian akan mendapatkan keberuntungan. Namun, wahai Handlolah, bagilah waktu secara baik. Gunakan waktu untuk bermunajat kepada Allah, sediakan waktu untuk introspeksi diri, waktu untuk merenungkan dan meneliti serta mencermati semua ciptaan Allah, dan waktu untuk memenuhi kebutuhan hidup (urusan ekonomi)”.

Dari jawaban Rasulullah saw, tampak jelas bahwa Rasulullah saw membagi waktu menjadi empat bagian dan waktu untuk urusan ekonomi hanya mempunyai porsi seperempat bagian. Dengan kata lain, dalam sehari hanya berkisar 6 jam yang semestinya kita gunakan untuk mencari nafkah.

MEREKA YANG TERTIPU

Ada beberapa golongan orang yang tertipu terkait dengan ibadah mereka, yaitu antara lain :
1.      Wudlu
Orang yang tertipu terkait dengan wudlu ini adalah mereka yang selalu was-was yang berlebihan dalam hal wudlu, yang tidak menoleh pada syariat terkait dengan hal kesucian namun mengambil kemungkinan-kemungkinan yang jauh yang terkait dengan najis.
Untuk menepis was-was tersebut, kita dapat belajar dari pengalaman sayyidina Umar yang berkenan wudlu dengan air yang dimiliki oleh seorang nasrani yang kemungkinan dapat terkena najis, padahal beliau sebenarnya sangat amat berhati-hati terkait dengan makanan sampai-sampai beliau sering meninggalkan sesuatu yang halal karena khawatir terjatuh pada sesuatu yang haram.

2.      Shalat
Yaitu orang yang was-was dalam hal sholat. Bahkan mereka terkadang sampai mengubah redaksi takbirotul ihram dengan alasan kehati-hatian sehingga mereka lalai atau tidak bisa khudur dalam sholatnya. Kendati  demikian, mereka menduga bahwa apa yang mereka lakukan adalah suatu kebenaran. Mereka  tertipu dalam soal makhorijul huruf. Mereka sibuk membedakan makhroj huruf antara dza, dlo, za, dsb., sehingga mereka tidak bisa menghayati sholatnya.

3.      Membaca dan menghafal al-Qur’an
Mereka mentargetkan khatam dalam suatu tempo waktu tertentu tanpa meresapi kandungan maknanya sehingga tidak mampu mengambil pelajaran darinya. Gambaran mereka seperti mendapatkan surat dari atasannya yang berisikan perintah dan larangan namun justru mereka sibuk menghafal isi surat tersebut tanpa mengindahkan kandungan isi suratnya.

4.      Puasa
Mereka tertipu karena puasanya. Bahkan kadang puasa menahun tapi tidak mampu meninggalkan perbuatan maksiatnya, seperti ghibah, riya’ dan sebagainya. Mereka lebih memperhatikan ibadah-ibadah sunat namun mengabaikan yang wajib.

5.      Haji
Mereka yang tertipu karena hajinya. Mereka konsen dan semangat untuk melaksanakan ibadah haji bahkan sampai berkali-kali namun ia tidak menghentikan kebiasaan buruknya, seperti mendzolimi orang lain, menunda pembayaran hutang, keengganan memohon restu kedua orang tua, dan bekal harta yang haram. Dan dalam perjalanan ke tanah suci pun ia tidak memperhatikan sholatnya dan tidak meninggalkan perkataan buruknya.

6.      Ibadah-ibadah sunat
Mereka tertipu dengan ibadah-ibadah sunatnya, karena mereka tidak memandang penting ibadah-ibadah yang wajib. mereka rajin melakukan sholat dluha, sholat malam, serta sholat sunat lainnya namun ia tidak dapat merasakan manisnya sholat fardlu dan tidak mempunyai semangat yang tinggi dalam melaksanakan kewajiban sebagaimana semangat mereka dalam melaksanakan ibadah sunat.


Ziarah dan Tawasul

Ketika mengarungi kehidupan dunia, manusia betapa pun kuasa dan kuatnya, pasti suatu ketika mengalami ketakutan, kecemasan, dan kebutuhan. Memang pada saat kekuasaan dan kekuatan itu menyertainya, banyak yang tidak merasakan bahwa dirinya mempunyai kebutuhan, tetapi ketika kekuasaan dan kekuatan meninggalkannya, ia merasa takut atau cemas, dan pada saat itulah ia baru merasa bahwa ia membutuhkan “sesuatu” yang mampu menghilangkan ketakutan dan kecemasannya. Boleh jadi pada tahap awal ia mencari “sesuatu” itu pada makhluk, tetapi jika kebutuhannya tidak terpenuhi, pastilah pada akhirnya ia akan mencari dan terus mencari sebuah kekuatan yang berada di luar alam raya yang diharapkannya mampu mengusir rasa takut dan cemas yang sedang dialaminya. Dengan demikian, setiap manusia pastilah menginginkan kehidupan yang nyaman, damai, serta sentosa. Dengan kata lain, ketenangan batin sangatlah mereka idamkan.
Realitas di Indonesia, banyak sekali fenomena yang menunjukkan bahwa keresahan masyarakat Indonesia makin meningkat dengan adanya kesulitan ekonomi yang makin menindih kehidupan mereka. Hal inilah yang kemudian menjadikan banyak orang yang yakin dengan hal-hal yang dianggap mempunyai kekuatan ajaib yang diyakini dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit atau dapat mendatangkan rejeki. Selain itu, adanya beberapa orang yang mencari jalan pintas demi memenuhi kebutuhannya dengan cara korupsi atau yang lainnya. Hal ini jugalah yang mendorong adanya penipuan yang dilakukan oleh sebagian orang dengan memberikan berbagai macam tawaran kerja atau cara-cara sukses demi meraup uang yang banyak. Beberapa hal tersebut di atas menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum yakin dengan sepenuhnya terhadap kekuatan doa.
Memang, secara umum manusia itu akan terlena dengan tugas pokoknya yakni ibadah kepada Allah SWT dan berbakti kepada sesama. Hal ini karena disebabkan keasyikan mereka dengan urusan duniawi sebagaimana disinggung dalam QS. at-Takatsur.
Sejarah menginformasikan bahwa nabi Sulaiman as ketika asyik dengan kuda-kudanya, hampir saja ia lupa menjalankan shalat ashar. Karena ia nabi, akhirnya ia menyembelih seluruh kuda-kudanya yang kurang lebih berjumlah 1000 ekor dan membagikan dagingnya kepada fakir miskin. Sementara itu, sayyidina Ali bin Abi Thalin karramallohu wajhah ketilka asyik dengan keindahan kebun-kebunnya, ia tak sempat menjalankan shalat ashar. Akhirnya, kebun tersebut ia berikan untuk kepentingan fisabillillah. Terkait dengan hal ini, sebagaimana disinggung dalam QS. at-Takatsur, solusi yang efektif adalah dengan ziarah kubur.
Ziarah kubur pada prinsipnya sangat dianjurkan oleh agama karena dapat mengingatkan kita akan kematian dan tentunya berkonsekuensi akan mengurangi kecintaan kita terhadap materi duniawi dan lebih banyak untuk menyiapkan bekal untuk kehidupan ukrawi.
Untuk mengingat kematian, ziarah kubur bisa diklasifikasikan menjadi 3 kategori, yaitu :
1.      Menziarahi makam orang kafir.
Hal ini diperbolehkan sekedar untuk mengingatkan kita bahwa suatu saat nanti kitapun akan mati, hanya saja kita diharamkan untuk mendoakannya.
2.      Menziarahi makam orang-orang mukmin yang bermaksiat.
Ini diperbolehkan dan kita dianjurkan utnuk mendoakannya agar dosa-dosanya diampuni olehNya. Namun kita tidak diperkenankan memohon syafaat atau bertawassul meminta pertolongan kepadanya karena dirinya masih membutuhkan pertolongan dan belum dijamin keselamatannya.
3.      Menziarahi makam orang-orang mulia.
Hal ini disunatkan dengan tujuan untuk mendoakan serta bertawasul memohon syafaatnya. Mereka adalah para nabi, para rasul, para syuhada, para sholihin, hamilul qur'an, serta muadzin fisabilillah.
Pada prinsipnya jika seseorang saat hidupnya bisa memberi pertolongan atau memberikan syafaat, maka ketika ia sudah mati ia lebih mampu untuk memberikan syafaat karena ia tidak lagi bergelut dengan urusan duniawi. Bentuk syafaatnya adalah berbagai macam kemudahan dalam mengarungi kehidupan dunia. Sudah barang pasti syafaat tersebut bisa diberikan atas izin Allah.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diketahui beberapa manfaat ziarah kubur, antara lain :
1.      Sebagai bentuk birrul walidain, ketika menziarahi kedua orang tua atau guru
2.      Mendapatkan aliran doa atau pertolongan dari para auliya’
3.      Akan mendapatkan pahala sebanyak ayat atau huruf yang ia baca
Terkait dengan ziarah, ada beberapa etika ziarah, yaitu :
1.      Sebelum ke makam sebaiknya berwudlu terlebih dahulu
2.      Ketika hendak masuk ke makam, ucapkan assalamu’alaikum daro qoumim mukminin  wa inna insya Allahu bikum lahikuun
3.      Ketika sampai ke makam yang dituju maka ucapkan assalamu’alaikum yaa abi atau assalamu’alaikum yaa ummi dan sebagainya
4.      Saat tahlil, sebaiknya menghadap ke wajah sang mayit, jadi menghadap ke timur
5.      Ketika berdoa menghadap ke kiblat
Dan hindari berkumpulnya antara laki-laki dan perempuan

RELEVANSI DOA DENGAN KETENANGAN BATIN

A.    Pendahuluan
Dalam mengarungi kehidupan dunia, manusia betapa pun kuasa dan kuatnya, pasti suatu ketika mengalami ketakutan, kecemasan, dan kebutuhan. Memang pada saat kekuasaan dan kekuatan itu menyertainya, banyak yang tidak merasakan sedikit kebutuhan pun, tetapi ketika kekuasaan dan kekuatan meninggalkannya, ia merasa takut atau cemas, dan pada saat itu ia membutuhkan “sesuatu” yang mampu menghilangkan ketakutan dan kecemasannya itu. Boleh jadi pada tahap awal ia mencari “sesuatu” itu pada makhluk, tetapi jika kebutuhannya tidak terpenuhi, pastilah pada akhirnya ia akan mencari dan bertemu dengan kekuatan yang berada di luar alam raya. Itulah Tuhan. Dialah yang diyakini dapat memenuhi kebutuhan manusia, menutupi kekurangannya, menghilangkan kecemasannya, dan sebagainya yang merupakan kebutuhan makhluk.
Realitas di Indonesia, saat ini dunia usaha sedang menghadapi badai yang luar biasa dahsyat, tingkat inflasi yang tinggi, nilai rupiah yang tidak menentu, daya beli masyarakat yang merosot tajam, harga-harga yang menjulang tinggi, dan tidak adanya kepastian hukum. Semua itu adalah pukulan yang sangat mematikan bagi dunia usaha. Banyak perusahaan yang gulung tikar atau mati suri. Korban PHK di mana-mana. Sebagian besar korban merasa putus asa.
Prinsip menaruh harapan dari Tuhan melalui doa itu kekal, mempunyai nilai yang cukup signifikan, tidak peduli apa pun yang terjadi, tidak akan goyah meskipun kehilangan jabatan, harta, orang yang disayangi, kawan, ataupun penghargaan, bahkan penyiksaan seperti yang dialami oleh Bilal bin Rabah.

B.     Mengenal Do’a
Doa merupakan bagian dari dzikir. Ia adalah permohonan. Setiap dzikir kendati dalam redaksinya tidak terdapat permohonan, tetapi kerendahan hati dan rasa butuh kepada Allah SWT yang selalu menghiasi pendzikir, menjadikan dzikir mengandung do’a.
Do’a pada mulanya berarti permintaan yang ditujukan kepada siapa yang dinilai oleh si peminta mempunyai kedudukan dan kemampuan yang melebihi kedudukan dan kemampuannya. Karena itu, ia bukan permintaan yang ditujukan kepada siapa yang setingkat dengan si pemohon. Konteksnya berseberangan dengan perintah. Sebab, walaupun perintah pada hakikatnya merupakan permintaan, tetapi ia ditujukan kepada siapa yang kedudukannya lebih rendah dari yang meminta (Waahbah Azzuhail jilid 1 th. 1986….. hal…218-219)
Do’a dalam istilah agamawan adalah permohonan hamba kepada Tuhan agar memperoleh anugerah pemeliharaan dan pertolongan, baik buat si pemohon maupun untuk pihak lain. Permohonan tersebut harus lahir dari lubuk hati yang terdalam disertai dengan ketundukan dan pengagungan kepada-Nya. Bahkan Islam mengajarkan kita untuk tidak egois dalam berdo’a. Hal ini di tunjukkan dalam bacaan do’a tahiyyat yang tidak berhenti pada assalamu’alaika ayyuha an-nabiyyu, namun di lanjutkan dengan assalamu ’alaina  wa’ala ’ibadillahisshalihin
Dalam al Qur’an Allah menegaskan kepada manusia bahwa diri-Nya dekat : “Dia dekat.” Boleh jadi, ketika itu ada yang bertanya tentang “tempat Tuhan.” Karena menduga Tuhan sama dengan makhluk. Jawaban bahwa “Dia dekat” tidaklah keliru. Seakan-akan jawaban ini memberitahu si penanya bahwa yang penting diketahui dan disadari adalah bahwa “Dia dekat.” Boleh jadi juga pertanyaan mereka adalah : “Apakah Tuhan mendengar do’a kami?” Pertanyaan semacam ini juga dapat dijawab dengan “Dia dekat.” Karena siapa yang dekat, biasanya mendengar. Kalau yang mereka tanyakan adalah “Bagaimana berdo’a, apakah dengan suara keras atau lembut?” Atau ”Apakah Allah mengabulkan do’a siapa yang berdo’a?” Maka jawaban itupun sangat sesuai, karena dengan “Dekat-Nya”, maka seseorang tidak perlu berteriak, dan dengan “Dekat-Nya.” Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya, Dia akan mengasihi dan mengabulkan do’a mereka. Begitu juga kalau pertanyaan itu adalah “Apakah Allah meneria taubat kami, jika kami bertaubat?” dengan “Allah dekat” berarti Allah menerimanya. Demikian, terlihat betapa jawaban di atas memuaskan semua penanya yang bermaksud melangkah mendekatkan diri kepada Allah SWT. (Quraish Shihab, 2006 :  177-178)

C.    Manfaat Do’a
Dahulu - dan boleh jadi hingga kini - ada yang berpendapat do’a tidak berguna. Mereka berkata bahwa : “Kalau yang diharapkan oleh yang berdo’a telah diketahui Allah, dengan pengetahuan-Nya yang menyeluruh itu, bahwa harapan tersebut akan terjadi, maka ada gunanya berdo’a? Bukankan ia pasti terjadi? Sedangkan kalau dalam pengetahuan-Nya harapan si pemohon tidak akan terkbulkan, maka do’a pun hanya akan sia-sia.” Ada lagi yang berkata bahwa sebenarnya segala sesuatu telah ditetapkan Allah dan tertulis di Lauh al-mahfuzh. Bukankan Rasululllah saw. bersabda :  ”Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah terlipat, yakni tak ada lagi yang dapat diubah”. Jika demikian apa gunanya berdo’a?
Pandangan-pandangan di atas tidaklah tepat. Bukan saja karena manusia tidak mengetahui pengetahuan Allah yang menyangkut permintaan-Nya, sehingga dia tetap dituntut berusaha, dan salah satu usaha itu adalah do’a. Disamping itu, manusia juga dituntut oleh agama untuk hidup dalam harapan, salah satu wujud dari kondisi kejiwaan seperti itu tercermin oleh doa. Dengan do’a, seseorang yang beriman akan merasa lega, puas hati, dan tenang karena merasa bersama Allah yang maha kuasa. Dan dengan demikan, dia merasakan ketenangan, dan hal tersebut memberinya kekuatan batin dalam menghadapi penyakit, rasa takut dan kecemasanya. Dan sangat membantu dalam penyembuhan dan keseimbangan jiwa.
Alexis Carrel, salah soerang ahli bedah Perancis (1873-1941) dan peraih hadiah Nobel dalam bidang kedokteran, sebagaimana dikutip oleh Quraish Shihab menulis dalam bukunya Pray (do’a) tentang pengalaman-pengalamannya dalam mengobati pasien. Tulisnya “Banyak diantara mereka memperoleh kesembuhan dengan jalan berdo’a” Menurutnya, doa adalah suatu gejala keagamaan yang paling agung bagi manusia, karena pada saat itu, jiwa manusia terbang menuju Tuhannya (Qurais shihab, 206 :181).
Kehidupan manusia, suka atau tidak, mengandung penderitaan, kesedihan, dan kegagalan, disamping kegembiraan, prestasi, dan keberhasilan. Memang, banyak kepedihan yang dapat dicegah melalui usaha yang sungguh-sungguh serta ketabahan. Tetapi, tidak sedikit juga yang tidak dapat dicegah, seperti kematian, oleh upaya apapun., di sinilah semakin terasa manfaat doa. Dan harus diingat bahwa kalau pun apa yang dimohonkan tidak sepenuhnya tercapai, namun dengan do’a tersebut seseorang telah hidup dalam suasana optimisme, harapan, dan hal ini tidak diragukan lagi akan memberikan dampak yang sangat baik dalam kehidupannya. Karena itu, jika do’a tidak menghasilkan apa yang dipinta, maka paling tidak manfaatnya adalah ketenangan batin si pendo’a karena dia telah hidup dalam harapan.
Bahwa takdir telah ditentukan Allah, memang benar, tetapi kita tidak harus memahami takdir dalam pengertian segala sesuatu telah ditetapkan rincian kejadiannya oleh Allah, sehingga manusia tidak dapat mengelak. Takdir adalah ketentuan terhadap sesuatu berdasar sistem yang ditetapkan-Nya. Siapa yang bersandar di tembok yang rapuh maka akan ditimpa reruntuhannya, dan siapa yang menjauh dari tembok itu akan terhindar. Kedua dampak di atas adalah takdir-Nya, namun demikian, manusia berpotensi untuk memilih dan berusaha menghindar. Salah satu usaha tersebut adalah do’a. Oleh karena itu, kita dapat berkata bahwa ada ketetapan-Nya yang telah pasti dan ada pula yang bersyarat. Ada taqdir mubrom, ada  pula yang mu’allaq. Siapa tahu salah satu syarat itu adalah do’a, sehingga apa yang diperoleh oleh yang berdo’a, dapat berbeda dengan apa yang dialami oleh mereka yang tidak berdo’a. disamping itu, harus juga diingat bahwa pengetahuan yang dimiliki satu pihak, sama sekali tidak menjadikan ia terlibat dalam terjadi atau tidak terjadinya sesuatu. Pengetahuan seseorang menyangkut tergelincirnya siapa yang menginjak kulit pisang, misalnya, bukanlah pengetahuan itu yang menyebabkan si penginjak tergelincir (Khusnul hamidiyyah, th….hal…..)
Ada lagi yang berkata bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Dermawan sehingga kita tidak perlu berdo’a, dan kita serahkan saja kepada kasih dan kerdermawanan-Nya. Memang benar, Allah Maha Pengasih dan Maha Dermawan. Banyak sekali yang telah Dia anugerahkan sebelum, bahkan tanpa diminta oleh hamba-hambaNya. Tetapi dalam saat yang sama, Dia memerintahkan kita berdo’a. bertebaran ayat al Qur’an dan hadist nabi yang berbicara tentang perintah tersebut.
Allah Maha Mengetahui tentang kebutuhan seseorang. Jika demikian, apa gunanya memohon? Demikian dalih yang lain. Ini bisa ditampik dengan mengatakan bahwa do’a bukanlah untuk menyampaikan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya, karena segala sesuatu diketahui-Nya, tetapi do’a antara lain bertujuan menampakkan ketundukan, kepatuhan, dan kerendahan diri manusia di hadapan-Nya. Sementara ulama’ berkata : Do’a yang dimaksud untuk menampakkan ketundukan dan penghambaan diri kepada Allah adalah sesuatu yang amat terpuji. Soal dikabulkan atau tidak bukanlah urusan si pendo’a tetapi hak mutlak Allah. Jika seseorang mengukur dirinya menyangkut terpenuhinya harapannya, maka sungguh itu jauh dari memadai, karena seseorang biasanya tidak berdo’a/ meminta pertolongan kecuali setelah sadar bahwa dia sebagai individu memiliki kelemahan, hingga akhirnya dia meminta kepada siapa yang dinilainya mampu memenuhi permintaannya. Seseorang tidak akan meminta segelas air kepada bayi, karena ia sadar bahwa dia tak akan mampu memenuhi herapanya
Karena itu, yang berdo’a mestinya, selalu ridlo kepada Allah, baik permohonannya dikabulkan maupun tidak. Dan karena itu pula al-Qur’an melukiskan bahwa orang-orang yang shaleh menjadikan ucapan alhamdulillah sebagai akhir dari do’a mereka.
Agama menjadikan do’a sebagai salah satu bentuk yang sangat jelas dari penghambaan diri kepada tuhan, karena itu Al-qur’an menyatakan bahwa Allah murka bila hamba-Nya tidak memohon kepada-Nya.
Allah menghendaki dari yang berkelimang dosa pun agar memohon kepadanya. Karena itu siksa yang dijatuhkan Allah antara lain, bertujuan mendorong orang-orang yang durhaka agar bertaubat dengan tulus dan berdo’a dengan rendah hati, karena ampunan Allah jauh lebih luas dibanding dosa hamba. Hai ini dapat disimak pada kisah umat terdahulu
Sejarah menginformasikan tentang kisah umat terdahulu, dimana ada diantara mereka orang yang yang berlumuran dosa. Ya’ni  ia telah menghabisi 99 jiwa, meski demikian ia tidak putus asa sehingga ia bermaksud untuk bertaubat. Dan ketika maksud taubat ini disampaikan kepada seorang rahib, ia menegaskan bahwa dosa sebesar itu tidak bisa diampuni Allah. Lantaran ia kecewa dengan jawaban  tersebut, ia justru membunuh rahib tersebut.sehingga genap 100 jiwa yang ia habisi. Namun tampaknya keinginan dia untuk bertaubat tidak padam sehingga maksud taubat ini di sampaikan kepada orang ‘alim dan rupanya inilah jawaban yang ia nantikan. Orang ‘alim tersebut menegaskan bahwa Allah berkenan menerima taubat hamba-Nya sebesar apapun selama ia mau kembali bertaubat kepada-Nya. Kemudian ia di suruh untuk meninggalkan kampung halamannya yang tidak baik guna menuju daerah yang lebih religi dengan harapan ia bisa rajin ibadah bersama-sama penduduk setemat
Namun disaat ia menuju daerah yang religi ini ia wafat di tengah perjalanan. Kematian ini menjadi pro konta antara malaikat ‘azab dan malaikat rahmat. Singkat cerita akhirnya ada malaikat yang menjelma sebagai manusia dan ia menyarankan agar mengukur perjalanan sang pentaubat tadi. Ternyata setelah pengukuran dilaksanakan ia lebih dekat dengan daerah yang ia tuju. Sehingga malaikat rahmatlah yang menang dan akhirnya surgalah tempat tinggalnya. Demikianlah pengembaraan sang pentaubat dalam mencari ampunan-Nya (Musthofa sa’id Khon 1993 jilid 1 hal 80-81).
Karena kalau tidak, siksa yang lebih besar dapat menimpa mereka. Jatuhnya siksa Allah yang lebih besar akibat keengganan memohon, menunjukkan bahwa yang maha kuasa itu murka. Keengganan berdo’a mengandung makna ketiadaan kebutuhan kepada-Nya, dan ini bertentangan dengan sifat al-khalik yang selalu dibutuhkan dan sifat makhluk yang selalu butuh kepada Allah. Rasa ketidakbutuhan itu menunjukkan keangkuhan manusia. Hal ini juga tampak pada penuturan kisah Bani Israil sebagai berikut :
Rasulullah menuturkan bahwa pada komunitas Bani Israil terdapat 3 orang yang masing-masing di samping perekonomiannya lemah juga menderita penyakit.  Diantara mereka ada yang sakit kulit, bekepala butak dan lainya buta, sehingga ketiga tiganya terisolir dan dikucilkan oleh anggota masyarakat. Kemudian malaikat mendatangi mereka sembari menanyakan hal apa yang  paling mereka idam- idamkan. Tentu saja mereka ingin bebas dan sembuh dari penyakitnya serta kembali normal sebagaimana layaknya orang lain sehingga mereka tidak lagi dikucilkan. Kemudian malaikat menanyakan harta benda apa yang mereka sukai? Diantara mereka  ada yang menjawab ingin unta, sapi, dan lainya suka kambing. Dan atas izin Allah  mereka bertiga mendapatkan harta sesuai yang mereka harapkan, dan akhirnya ternak mereka berkembang biak banyak sekali.
Kemudian dalam kesempatan lain malaikat tersebut mendatangi mereka, dengan menjelma menjadi orang miskan yang kehabisan bekal dalam perjalanan, oleh karenaya malaikat “yang miskin“ ini minta bantuan kapada mereka agar dapat melanjutkan perjalananya. Namun apa jawab mereka? ”Kebutuhanku banyak, aku tidak bisa membantumu!” Kemudian malaikat ini berkomentar, ”Tampaknya aku mengenalimu. Bukankah kamu dulu miskin dan berpenyakit sehingga dikucilkan masyarakat? Kemudian Allah memberimu harta yang melimpah!” Orang yang pertama dan yang kedua membantah, ”Tidak! Harta ini kami warisi dari orang tua kami.” Kemudian sang malaikat berucap, ”Kalau kalian bohong niscaya Allah akan mengembalikan kalian kekeadaan kondisi semula.”
Sikap orang ketiga ini lain responnya kapada sang malaikat. Ia justru mempersilahkan malaikat tersebut untuk mengambil hartanya sebanyak-banyaknya. Melihat respon positif ini akhirnya malaikat menegaskan bahwa saya hanya menguji kalian. Allah meridhoimu dan murka kepada kedua temanmu (Musthofa sa’id khon dkk, 1993 : jilid 1 hal 35-36)
Allah maha mengetahui tentang keinginan dan kebutuhan manusia, namun dalam saat yang sama Dia menghendaki agar manusia menampakkan kebutuhan itu kepada-Nya dan tidak mengandalkan pengetahuan-Nya atas kebutuhan manusia.
Bahkan sekian banyak anjuran agar manusia dalam berdo’a merengek dan mendesak bagaiakan anak kecil yang merengek kepada orang tua meminta sesuatu.
Do’a adalah mukh al-Ibadah, yakni saripati ibadah (HR at-Tirmidzi melalui  Anas bin Malik). Dalam riwayat lain, doa adalah ibadah (HR. at-Tirmidzi dan Abu Daud melalui an-Nu’man bin Basyir). Ini karena setiap ibadah mengandung permohonan, sedang permohonan yang sebenarnya adalah yang tulus ditujukan kepada Allah swt. setelah mengakui keesaan-Nya. Di sisi lain, kata ibadah sering kali digunakan al-Qur’an dalam arti doa, demikian juga sebaliknya. Perhatikanlah firman Allah dalam QS. Ghafir [40] :60 yang bagaikan menyatakan bahwa: “Dan Tuhan (yang selama ini memlihara)  kamu”, telah berfirman (sejak dahulu atau melalui ayat-ayat al-Qur’an yang telah turun sebelum ayat ini bahwa): Berdoalah (dan beribadahlah) kepada-Ku (yakni murnikanlah ketaatan kepada-Ku perkenankanlah tuntutan-Ku) niscaya Kuerkenankan(secara mantap) bagi kamu (apa yang kamu harapkan. Jangan sekali-kali merasa angkuh sehingga enggan berdoa dan beribadah karena) sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri (yakni enggan berdoa serta menghindar untuk) beribedah kepada-Ku (dan memperkenankan tuntutan-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina (yakni tersiksa lahir dan batin).
Perintah-Nya untuk berdoa/beribadah dengan janji mengabulkan/menerimanya - selama manusia memparkenankan tuntutan-Nya - harus menyadarkan manusia bahwa Allah menjanjikan pengabulan yang dibutuhkan manusia padahal Allah tidak membutuhkan doa tersebut. Karena itu, manusia harus berdoa sambil memperkenankan tuntutan-Nya karena dialah yang butuh kepada-Nya.
Ayat-ayat di atas antara lain menunjukkan bahwa Allah swt. sangat yakin menyukai hamba-hamba-Nya yang memohon kepada-Nya, dan karena itu doa dianjurkan setiap saat, khususnya pada malam hari.
Di tempat lain ditemukan bahwa Allah memerintahkan manusia agar memohon dengan firman-Nya :”Mohonlah kepada Allah sebagian anugerah-Nya” (QS.an-Nisa’[4]:32). Benar, hanya “sebagian”, karena banyaknya pun yang meminta dan betapapun banyaknya yang mereka semua minta, kalau semua diberi sesuai permintaannya, maka itu hanya sebagian kecil, bahkan setetes dari anugerah-Nya.
Sabda Rasul saw. menunjukkan betapa besar nilai doa sekaligus merupakan anjuran memanjatkan doa: ”Tiada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah melebihi doa”(HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah , melalui Abu Hurairah ra.).
Adalah sangat tercela seseorng yang berlaku seperti kaum musyrik, yang hanya berdoa ketika dalam kesulitan. Sekian banyak ayat al-Qur’an yang berbicara tentang sikap buruk ini. Antara lain firman-Nya dalam QS. Yunus [10]:12.QS al Furqon[25]:13,QS al ’Ankabut [29] :65, QS Arrum [30] :33’ QS luqman [31] :32...........TOLONG  Msg2 tulis artinya.
Ayat tersebti menunjukkan bahwa manusia, saat mengalami kesulitan akan terus berdoa kepada Allah swt. dalam keadaan apapun, hingga kesulitannya teratasi, tetapi yang durhaka dan tidak bermoral segera melupakan Allah ketika kesulitannya berlalu, bahkan sebagian mereka bersikp lebih buruk, sebagaimana dilukiskan oleh firman-Nya dalam QS. az-Zumar [39]:49.
Orang-orang semacam ini tidak sedikit. Mereka tidak menyadari bahwa setiap manusia membutuhkan bantuan Allah swt. Salah satu doa Rasul saw. yang sering beliau ucapkan adalah Rabbi la takilni ila nafsi ‘ain (Tuhanku, Janganlah Engkau membiarkan aku dengan diriku [tanpa bantuan-Mu] walau sekejap matapun)
Kita juga tidak jarang menemukan seseorang atau sekelompok orang berkumpul sambil mengangkat tangan dan menengadah ke langit, tetapi apa yang mereka lakukan tidak dapat dinamai doa. Itu dapat diketehui dari cara atau kalimat-kalimat yang terdengar dari mereka. Dalam buku Pelita Hati, Quraish shihab mengemukakan bahwa: ”Di Negara kita, upacara-upacara resmi,sebagaimana halnya upacara-upacara keagamaan, sering kali diakhiri dengan doa. Hanya saja sebagian dari permohonan kita itu, mungkin tidak memenuhi syarat untuk dinamai doa karena tidak jarang terasa bahwa permohonan yang kita panjatkan bagaikan laporan kepada Tuhan yang disampaikan dengan bangga dan panjang lebar. Kita bagaikan berpidato di hadapan-Nya, padahal kita diperintahkan memohon dengan rendah hati dan dengan suara yang lembut”.karenaitu kita harus bisa membedaakan antara sikap al jaaz’u yang berarti menggerutu dan sikap tadhorru’ yang berarti memohon pertolongan Allah dengan segala kerendahan hati[ Al Ghozali minhajul ’abidin juz 1 alhidayah surabaya tt hal 84]
Sikap berbangga dalam “berdoa” adalah sikap yang bertentangan dengan hakikkat doa. Itulah salah satu yang diingatkan oleh Rasul saw. dengan sabda beliau: “Akan ada orang-orang yang melampaui batas dalam berdoa.” Pelampauan batas itu, antara lain bersuara keras yang memekakkan ketika berdoa, memohon yang tidak wajar dimohonkan, dan berbangga-bangga dengan doa yang dipanjatkan.
Manusia, betapapun kuatnya, tetap saja adalah makhluk yang lemah yang memiliki ketergantungan. Makhluk ini memiliki naluri cemas dan mengharap. Naluri itu tidak dapat dielakkannya. Kenyatan sehari-hari membuktikan bahwa bersandar kepada makhluk, betapapun kuat dan berkuasanya, sering tidak membuahkan hasil. Setelah terbukti ketidakmampuan makhluk yang diandalkan untuk memenuhi harapan atau menangkal kecemasan, naluri tersebut tidak pupus, karena ketika itu-diakui sebelumnya atau tidak-manusia tadi menengadah kepada sumber yang dirasakannya pada lubuk hati yang terdalam; dia menengadah ke “langit” mengharap kiranya Yang Maha Kuasa     memenuhi harapan dan menghilangkan kecemasannya.
Manusia telah dating ke hadirat Tuhan sebelum mereka mengenal-Nya dengan nalar. Karena itu-tulis sebagian filosof-Anda bisa saja dimasa lampau atau masa kini masuk ke satu lokasi  pemukiman, dan disana tidak menemukan bioskop, atau pasar, tetapi pasti Anda menemukan orang-orang yang memanjatkan harapan kepada Tuhan.
Allah swt. mmbuka pintu selebar-lebarnya bagi manusia untuk memohon kepada-Nya, bahkan Dia marah terhadap mereka yang enggan berdoa. Agaknya kemarahan itu disebabkan karena keengganan itu mengisyaratkan bahwa manusia tidak mengakui kelemahannya dan kebutuhannya kepada Allah, padahal sebagaimana ayat di atas menyebutkan, semua manusia terlebih dahulu kebutuhan manusia kepada Allah harus merasa membutuhkan-Nya karena memang semua membutuhkan-Nya.

D.    Cara dan Etika Berdo’a
Dalam berinteraksi dengan manusia, ada etika, sopan santun, dan adab. Menjaga pola interaksi dan komunikasi yang baik, akan menjamin hubungan yang baik dengan sesama. Begitupun sebaliknya. Tanpa etika, sopan santun dan adab, hubungan sesama manusia akan sulit menghasilkan sesuatu yang diharapkan. Ilustrasi ini, akan mengawali, bagaimana kita menjalin hubungan, komunikasi dan interaksi yang baik dengan Allah SWT melalui do’a.
Tentu ada beberapa langkah yang diajarkan Allah, Rasulullah dan para salafushalih agar kita bisa berdo’a dengan baik.
Pertama, pilihlah waktu-waktu yang tepat untuk berdo’a. Sebenarnya berdo’a itu tidak terikat dengan waktu, tetapi Islam memang mengajarkan ada waktu yang paling baik dan istimewa untuk berdo’a. Beberapa waktu istimewa untuk dikabulkannya do’a antara lain di malam ”asyrul awakhir”(sepuluh malam terakhir dalam bulan Ramadhan), di hari Arafah (9  Zulhijjah di kala jemaah haji wukuf di Arafah), di bulan Ramadhan, di hari Jum’at, di sepertiga malam yang terakhir (sesudah jam 2 malam), pada waktu sahur (sebelum fajar), sesudah berwudhu, usai azan sebelum iqamat, ketika sedang berpuasa, ketika dalam medan jihad, di setiap selesai shalat fardu, pada waktu sedang sujud (dalam sholat atau di luar sholat), ketika sedang musafir atau bepergian, dan sebagainya. Termasuk di sini, adalah tidak menyia-nyiakan untuk berdo’a di tempat-tempat yang istimewa, seperti di Masjidil Haram, misalnya.

Kedua, gunakan keberadaan diri kita untuk meraih kesempatan berdo’a. Rasulullah menjelaskan, di antara do’a yang mustajab adalah do’a orang tua untuk anaknya, atau do’a anak yang berbakti dengan baik kepada orang tuanya, dan do’a seorang muslim  untuk saudaranya yang muslim, tanpa diketahui oleh saudara yang dido’akan itu. Maka, bila kita menjadi orang tua, perbanyaklah do’a untuk anak-anak. Bila kita menjadi anak, berusahalah untuk berbakti kepada orang tua, agar do’a kita terkabulkan. Dan, jangan lupa seringlah berdo’a untuk saudara dengan diam-diam. Karena Allah berjanji akan memberi untuk kita, apa yang kita mintakan untuk saudara kita itu. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang muslim mendo’akan saudaranya secara diam-diam, kecuali malaikat berkata, ‘dan untukmu seperti apa yang engkau mintakan untuknya.” (HR. Muslim). 
Ketiga, mulailah berdo’a dengan memperbanyak puji-pujian kepada Allah. Memulai dengan tahmid (pujian terhadap Allah) dan shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah bersabda, “Jika salah seorang di antara kamu berdo’a, hendaknya memulai dengan memuji dan menyanjung Rabbnya, dan bershalawat kepada Nabi, kemudian berdo’a apa yang dia kehendaki." (HR.Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani). Ibnu Mas’ud ra pernah berdo’a, ia memulai dengan tahmid, kemudian bershalawat, kemudian diteruskan dengan do’a untuk kebaikan dirinya. Maka Rasulullah yang ketika itu mendengarnya mengatakan, "Mintalah pasti kamu diberi, mintalah pasti kamu diberi.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hasan shahih, dan Abdul Qadir Al-Arnauth berkata, sanadnya hasan).
Keempat, mengangkat kedua tangan. Ini adalah salah satu sikap yang menunjukkan kebutuhan seorang hamba dalam berdo’a. Perhatikanlah sabda Rasulullah yang berbunyi, "Sesungguhnya Rabbmu itu Maha Pemalu dan Maha Mulia, malu dari hamba-Nya jika ia mengangkat kedua tangannya (memohon) kepada-Nya kemudian menariknya kembali dalam keadaan hampa kedua tangannya." (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, dihasankan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dan Al-Albani). 
Kelima, jangan mengeraskan suara. Cukup berdo’a dengan suara samar. Menghinakan diri di hadapan-Nya dan menampakkan kebutuhan yang sangat. Cukup denqan kata-kata yang sederhana, jelas. Utamakan materi do’a yang berasal daripada Rasulullah SAW, sahabat atau salafushalih. Allah berfirman, “Berdo’alah kepada Tuhan kalian dengan merendahkan diri dan suara pelan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS.Al-A’raf: 55).
Keenam, sebelum berdo’a, ucapkan istighfar dan mohon ampun kepada Allah atas seluruh kesalahan dan dosa yang kita lakukan. Mintalah dengan penuh kesungguhan ampunan (maghfirah) Allah atas dosa-dosa yang telah dilakukan, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, baik yang diketahui maupun yang tidak diketahuinya, baik yang diingat maupun yang terlupa. Sebab bagi Allah, tak ada sesuatu yang tersembunyi. Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan apa yang ada diantara keduanya. Dia juga mengetahui apa yang kita rahasiakan dari urusan kita, dan apa yang kita nyatakan. Allah berfirman: “Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu.” (Qs. Al Baqarah: 284). “Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.”(QS. Al-Mukmin: 19). Memohon ampun disertai dengan taubat yang benar dan niat yang ikhlas demi Allah akan menyucikan jiwa dan membersihkannya dari dosa-dosa. 
Ketujuh, konsentrasi dan khusyu’. Pahami dan resapi benar-benar apa yang kita minta. Berdo’a tidaklah sekadar melafadzkan bait-bait yang dihafal tanpa mengerti maknanya, tetapi harus benar-benar memahami dan menginginkan dikabulkannya do’a itu. Rasulullah bersabda: “Mohonlah kepada Allah sementara kamu sangat yakin untuk dikabulkan, dan ketahuilah bahwasanya Allah tidak akan mengabulkan do’a dari hati yang lalai dan bermain-main.”(HR. At-Tirmidzi, di hasankan oleh Al-Mundziri dan Al-Albani). Ketidaksesuaian sikap sewaktu berdo’a turut mempengaruhi kesempurnaan berdo’a. Jangan sampai kita berdo’a, sementara hati kita ngelayap entah ke mana. Ingat, perbuatan manusia hanya bermakna jika disertai kesadaran hati, oleh karena itu Allah hanya menilai perbuatan manusia yang berpijak pada kesadaran hati. Demikian juga do’a kepada Allah, yang didengar bukan bunyi kata-kata, tetapi kesadaran hati orang yang berdo’a. Menurut Hadist Riwayat Tirmizi, Allah tidak mendengarkan dan tidak mengabulkan do’a dari orang yang hatinya lalai (min qalbi ghafilin lahin).
Kedelapan, hindari berdo’a untuk keburukan. Seorang muslim dilarang keras mendo ‘akan kemusnahan dan kehancuran sesama muslim, karena Rasulullah SAW bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya (seagama) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Rasulullah tidak pernah mengajukan permohonan yang buruk untuk siapa pun. Bahkan pernah, ketika malaikat gunung menawarkannya untuk membalas perilaku keji penduduk Thaif, Rasul tetap menolak dan berharap agar keturunan mereka yang beriman. Rasulullah ketika itu malah berdo’a, "Ya Allah, berilah hidayah dan petunjuk-Mu kepada kaumku, karena mereka tidak mengetahui.
Kesembilan, tidak tergesa-gesa agar do’a itu dikabulkan. Rasulullah bersabda: “Akan dikabulkan bagi seseorang di antara kamu selagi tidak tergesa-gesa, yaitu dengan berkata, ’Saya telah berdo’a tetapi tidak dikabulkan’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Ibnul Qayyim berkata, “Termasuk penyakit yang menghalangi terkabulnya do’a adalah tergesa-gesa, menganggap lambat pengabulan do’anya sehingga ia malas untuk berdo’a lagi." Padahal bisa jadi antara do’a dan jawabannya memerlukan waktu 40 tahun, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abbas. (Abu Lairs As-Samarqandi dalam Tanbihul Ghafilin). Ibnul Jauzi berkata: “Ketahuilah bahwa do’a orang mukmin itu tidak akan ditolak, hanya saja terkadang yang lebih utama baginya itu diundur jawabannya atau diganti dengan yang lebih baik dari permintaannya, cepat atau lambat." (Fathul Bari, 11/141).
Kesepuluh, berdo’alah kepada Allah di segala kondisi dan keadaan. Jangan hanya berdo’a di saat-saat sempit dan membutuhkan pertolongan. Dalam Al Qur’an, Allah SWT banyak menyinggung sikap orang-orang yang hanya berdo’a dalam situasi kepepet. “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo’a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri. Tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo’a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan." (Qs. Yunus: 12).
Selain hal-hal di atas, tentu, soal terpenting lainnya adalah ikhlas dan hati yang bersih. Murnikan harapan dan keinginan dalam do’a untuk kebaikan mencapai ridha Allah. Ingat, kehadiran kita di muka bumi ini membawa misi ibadah dan untuk tunduk kepada Allah saja. Itulah tujuan akhir hidup seseorang yang sebenarnya. Maka, permohonan apa pun yang kita sampaikan, harus selalu dikaitkan dengan keridhaan Allah SWT.
Al-Qur’an dan al-Hadits menginformasikan tentang cara dan etika berdo’a yang baik sebagai berikut (M. Quraish Shihab, 1998 : 195-197) :
1.      Do’a hendaknya dimulai dengan memuji Allah atas segala nikmat yang telah dianugerahkann-Nya, misalnya dengan mengucapkan alhamdulillah. Ini sebagai pengakuan tentang kasih sayang-Nya. Sehingga kalaupun apa yang akan diminta tidak atau belum terpenuhi, maka tidak mengantar kepada kekesalan atau rasa ketidakadilan Ilahi. Setelah itu;
2.      Mengucapkan shalawat, dalam arti permohonan kepada-Nya agar Nabi Muhammad saw. Dilimpahi oleh-Nya rahmat dan kasih sayang. Ini dinilai sebagai kunci pembuka pintu pengabulan do’a. Karena Nabi Muhammad saw adalah kekasih Allah dan melalui beliau kita, umatnya, memperoleh petunjuk. Shalawat ini membuktikan rasa terima kasih kita kepada beliau yang dengan mengucapkannya kita berharap memperoleh pula percikan kasih sayang-Nya. Setelah itu;
3.      Ajukanlah permohonan. Tetapi jangan lupa bemohon pula untuk orang lain. Karena seperti dalam sebuah riwayat, jika seseorang berdo’a untuk orang lain, malaikat akan berdo’a, ”Ya Allah, anugerahkanlah yang berdo’a ini seperti apa yang dimintakannya untuk orang lain”.
4.      Khusuk dan ikhlas memohon kepada Allah dengan suara yang tidak keras sehingga tidak memekakkan telinga serta tidak bertele-tele agar tidak membosankan dan terasa dibuat-buat. Setelah itu;
5.      Akhirilah do’a dengan mengucapkan subhanallah, yakni mensucikan Allah dari segala kekurangan, antara lain sifat kikir atau tidak adil, dan presepsi-presepsi negatif lainnya kepada Allah. Penyucian itu hendaknya digandengkan dengan ujian kepada-Nya atas segala nikmat yang selama ini telah diperolehnya,yakni bacaan alhadulillahi rabbil ’alamin. Hal ini mengandung makna bahwa si pemohon penuh dengan sikap optimisme bahwa do’anya tidak akan disia-siakan oleh Allah

6.      Dan setelah selesai berdo’a hendaklah mengusap wajah